MENSUCIKAN JIWA – IMAM GHAZALI

9 Mar

BAB 1
Adab Guru dan Murid

Pengantar

WARISAN kenabian adalah acuan pembaruan yang benar, karena missi utama para Rasul alaihimus salam adalah tadzkir, ta ‘lim dan tazkiyah. Karena itu, pewaris kenabian yang utuh adalah orang yang mampu menjaga hal-hal ini tetap utuh dan sempurna, melaksanakannya dan menunaikan hak-hak Allah padanya. Jarang sekali ketiga hal ini berhimpun pada seseorang. Ada seorang yang piawai dalam menyampaikan nasehat tetapi tidak banyak berilmu; ada seorang yang banyak berilmu tetapi tidak piawai dalam menyampaikan nasehat; ada seorang yang berilmu dan piawai dalam menyampaikan nasehat tetapi tidak mampu melakukan tazkiyah. Siapa yang memiliki ketiga hal ini maka dia telah memiliki “obat mujarab” kehidupan. Jika tidak maka proses tajdid tetap harus berlangsung di kalangan mereka yang menginginkan dan yang melaksanakannya.

Hal terpenting yang harus menjadi perhatian nasehat para pemberi nasehat ialah mengingatkan (tadzkir) kepada ayat-ayat Allah di ufuk dan jiwa; mengingatkan kepada perbuatan dan hari-hari Allah; mengingatkan kepada berbagai hukuman dan sanksi-Nya; mengingatkan kepada apa yang dijanjikan, disiapkan dan diancamkan Allah kepada orang yang bermaksiat atau ta’at kepada-Nya.

Hal terpenting yang harus menjadi perhatian ta’lim para ulama’ ialah ta’lim al-Qur’an dan as-Sunnah yang merupakan penjelasan al-Qur’an:

“Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”
(Ali Imran: 79)

Hal terpenting yang harus menjadi perhatian tarbiyah para murabbi ialah
memperbaiki hati dan perilaku:

“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. ” (al-Baqarah: 151)”

Setiap zaman punya penyakit dan masalah tersendiri, dan sepanjang zaman juga punya penyakit dan masalahnya tersendiri, sedangkan seorang ‘alim yang rabbani ialah orang yang mampu mengobati penyakit-penyakit kontemporer dan penyakit-penyaki t sepanjang zaman. Itulah tanda keberhasilannya dalam tazkiyah.
Semenjak abad pertama telah muncul aliran irja’ (Murji’ah), tasyayyu’ (Syi’ah), kharijiyah (Khawarij) dan i’tizal (Mu’tazilah). Inti ajaran irja’ ialah meninggalkan amal, inti tasyayyu’ ialah berlebihan dalam masalah ahlul bait Rasulullah saw, inti ajaran Khawarij ialah ketumpulan akal, terburu-buru mengkafirkan, tidak menghormati orang yang memiliki keutamaan, dan iman mereka yang tidak melampaui kerongkongan mereka, dan inti ajaran i’tizal adalah terburu-buru melakukan ta ‘wil yang tidak ilmiah. Aliran-aliran seperti ini dianggap sebagai penyakit sepanjang zaman yang bisa muncul secara terus-menerus. Demikian pula setiap penyakit yang memilki sifat langgeng dalam kemunculannya. “Menjalar di antara kalian penyakit-penyakit ummat sebelum kalian yaitu dengki dan permusuhan (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi, hadits ini shahih).
Selain itu, setiap zaman punya penyakit tersendiri. Di antara penyakit
zaman kita ialah apa yang diisyaratkan oleh beberapa nash:

“Ilmu yang pertama kali diangkat dari bumi adalah kekhusyu ‘an.”
(Diriwayatkan oleh Thabrani dengan sanad hasan)
“Tetapi kalian seperti buih banjir… dan sungguh Allah akan menanamkan
wahan di hati kalian… cinta dunia dan takut mati.” (Diriwayatkan oleh Abud Dawud, hadits hasan)

Anda lihat bahwa zaman kita sekarang ini adalah zaman dimana kekhusyu’an sangat sedikit tetapi cinta dunia dan takut mati sangat mendominasi. Karena itu, seorang ‘alim (guru atau syaikh) yang tidak berhasil meng-hilangkan penyakit-penyakit ini maka ia tidak banyak bisa melakukan tajdid. Seorang ‘alim harus memiliki kemampuan seperti ini sehingga para murid bisa merasakannya.
Seorang guru yang da’i harus menyelenggarakan berbagai majlis nasehat, majlis ilmu dan majlis tazkiyah. sehingga mungkin bisa menggabungkan antara yang satu dengan yang lain. Atau membuat majlis umum untuk nasehat dan majlis khusus untuk tazkiyah yang menyelenggarakan dzikir dan mudzakarah fardiyah atau j oma ‘iyah dengan membaca sesuatu yang paling cocok dalam hal ini. Sementara itu diadakan pula majlis-majlis yang lain untuk ilmu-ilmu yang rinci seperti tilawah, tajwid, as-Sunnah dan ilmu-ilmunya, tafsir, ilmu-ilmu al-Qur’an. fiqh. ushul fiqh dan lain sebagainya.
Titik awal keberhasilan amal ini adalah adab yang mengatur guru dan murid. Selagi tidak ada adab yang mengikat murid dengan gurunya maka tidak akan bisa berlanjut dalam perjalanan. Selagi guru tidak melaksanakan adab ta’lim (mengajarkan ilmu) maka keberhasilannya sangat ditentukan oleh sejauhmana ia melaksanakan adab-adab tersebut. Oleh karena itu, mengetahui adab guru dan murid termasuk hal yang sangat penting dalam perjalanan kepada Allah, bahkan untuk menegakkan agama dan dunia.
Gerakan da’wah yang paling berhasil dalam sejarah Islam adalah gerakan yang menekankan sejak awal pada:
(1) Kepercayaan (tsiqah) kepada pimpinan dan pemimpin, kepercayaan yang
menumbuhkan ketaatan hati.
(2) Dzikir terus menerus dan ilmu yang menyeluruh, yang diperlukan dan yang sesuai.
(3) Keakraban dengan lingkungan yang baik, menghadiri pertemuan-pertemuannya –
dzikir, ilmu dan lainnya- dan memperkuat berbagai hubungan antar anggotanya.
(4) Penumbuhan adab-adab hubungan yang baik antara dirinya dan manusia secara
umum.
(5) Pelaksanaan public service (khidmah ‘aammah) dengan penuh semangat dan
perhatian.
Gerakan yang menghimpun nilai-nilai ini pada para pemula-nya adalah gerakan yang mampu hidup dan tumbuh. Oleh karena itu, para ulama aktivis harus menekankan nilai-nilai ini agar bisa diserap dan dihayati oleh para pemula sejak awal.
Nuh alaihis salam menyeru kaumnya seraya berkata:
“Sembahlah Allah, bertaawalah kepada-Nya dan ta ‘atlah kepadaku.” (Nuh: 3)

Setiap Rasul menyeru kaumnya kepada hal yang sama:
“Dan Kami tidakmengutus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (al-Anbiya’: 25)

Nabi Hud, Shalih, Syu’aib dan lainnya juga berseru: “Betaqwalah kalian kepada Allah dan ta’atlah kepadaku.”
Selama seorang murabbi tidak berhasil menumbuhkan keta’atan yang penuh kesadaran dari seorang murid, membiasakannya melakukan ibadah, dan merealisasikan ketaqwaannya maka sesungguhnya ia belum berbuat sesuatu. Titik awal hal ini terletak pada ihtiram (penghormatan) dan tsiqah (kepercayaan) seorang murid kepada gurunya, dan kelayakan guru mendapatkan hal tersebut. Semua ini membuat kami harus memulai kajian ini dengan Adab Guru dan Murid dari kitab Ihya’. Marilah kita ikuti keterangan
al-Ghazali secara langsung.] *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: